Takut Tertipu Belanja Online? Berikut Cara Mengetahui Penipu di Instagram

Beberapa kali inner circle saya tertipu ketika berbelanja online di luar marketplace. Salah satu sarang penipu online berada di Instagram. Memang belanja aman sebaiknya di marketplace, tapi kadang kita berada di dalam kondisi yang memaksa belanja di sosial media lain. Kondisi ini biasanya terjadi karena lokal seo, produk tersebut tidak ada di marketplace, barang antik/unik, dan masih banyak alasan lain. Instagram sendiri menawarkan fitur shopping yang membuat pengguna Instagram bisa berbelanja langsung. 


Tidak ada ruginya sebelum berbelanja online, kita lakukan banyak riset dan cek dahulu. Kali ini coba kita ulas beberapa ciri-ciri toko online di Instagram yang terindikasi abal-abal.

  • Cek jumlah likes. Misalnya toko ini, dengan followers 12.5K

Screen Capture by: Siarra
Toko dengan follower di atas 10k pastinya sudah bisa swipe up kan? Bisa jadi toko ini kredibel. Tapi tunggu dulu, setelah saya cek jumlah likes di postingannya cuman ada 3 likes? Tentu saja sangat tidak wajar untuk sebuah toko dengan pengikut 10k. Bisa dipastikan pengikutnya adalah pengikut tuyul.
Hanya 3 buah likes!

  • Kolom komentar dikunci. Hmmm... Ada apa gerangan?

Tentu saja alasan paling kuat adalah agar pembeli korban penipuan tidak bisa melakukan review buruk di kolom tersebut. Tidak bisa marah, tidak bisa menghujat, tidak bisa mention teman untuk bilang:
Guys, jangan beli di sini! Toko penipu nih!!!!

Saran saya, sudah langsung blacklist saja toko-toko yang mengunci kolom komentarnya. Toko semacam ini meskipun tidak menipu, dia sudah menunjukkan itikad buruknya dengan tidak mau menerima komplen misal karena barang atau pelayanan yang buruk.
  • Cek tagged post pada akun
Biasanya toko online yang benar, dia memiliki beberapa tag dari pembelinya yang melakukan review. Jika tag tersebut kosong, pertanyaannya apakah pernah ada transaksi sebelumnya?
Tidak ada tag dari pelanggan
Biasanya untuk mengelabuhi calon korban, mereka trying too hard dengan memasang banyak review palsu atau testimoni palsu. Bahkan sampai kelihatan maksa. Tapi memang ada penipu yang lihai dengan bermain cantik sehingga sulit untuk dibedakan kecuali dengan intuisi yang tajam. Yang jelas, jika kita ragu-ragu sebaiknya tinggalkan saja.

  • Hard Selling


Kita akan bahas perbedaan hard selling dan soft selling di artikel yang lain. Tanpa mendiskreditkan penjual-penjual yang melakukan hard selling, tapi kenyataannya toko online penipu biasanya memasarkan produk mereka secara hard aelling. Tentu saja karena tujuan utamanya menipu mereka tidak perlu susah payah bikin konten untuk mebranding diri mereka bukan? Tentu saja tidak semua orang yang melakukan hard selling adalah penipu. Bahkan saya sendiri sampai saat ini masih melakukan hard selling di beberapa kesempatan.

  • Cek riwayat akun

Jujur saja, saya juga baru tahu tentang ini dari kak Siarra (makasih kak). di Instagram terdapat fitur untuk mengecek riwayat akun yang suka banget gonta ganti username. Caranya klik tiga titik yang ada di Instagram, lalu pilih About This Account kalau dalam bahasa Indonesia Tentang Akun Ini.

Klik pada tulisan tersebut

Terlihat berapa kali ganti nama pengguna

Ternyata akun ini sembilan kali ganti nama tanpa alasan yang jelas! Masih percayakah kita membeli di toko semacam ini? Setelah toko tersebut dilihat, ternyata nama-nama sebelumnya nggak nyambung. Dalam satu tahun saja toko tersebut pindah dari Jakarta ke Bandung. Tidak hanya itu, tapi juga berubah dari akun personalm menjadi leasing otomotif, lalu jualan tas, berubah jualan sepatu, lalu terakhir daster. What...???
Riwayat nama sebelumnya

Sayangnya tidak semua akun Instagram bisa ditelik dengan cara ini. Entah mengapa ada akun yang tidak bisa dilihat riwayat penggantian nama penggunanya. Mungkin saja terkait dengan kebijakan privasi milik Instagram.

Untuk toko-toko yang memiliki ciri-ciri di atas sangatlah fishy sehingga kita patut berhati-hati dalam membelanjakan uang kita. Salah-salah uang kita yang raib entah kemana. Dari pengalaman yang sudah-sudah, uang yang hilang dari penipuan sering tidak bisa diurus kembali. baik pihak bank maupun penyedia layanan lain, biasanya mereka cuci tangan dengan kasus-kasus seperti ini. Alasan mereka sederhana, secara sistem tercatat log transaksi yang dilakukan adalah transaksi by consent yang wajar. Sedangkan kalau kita lapor pihak kepolisian? Paling cuman dikasih BAP saja.